Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Persiapan masuk Sekolah

Ibu/Bapak,

Kira-kira apa aja ya yang mesti saya perhatikan untuk persiapan sekolah, ini anak saya akan coba untuk playgrup dulu sih, kira-kira apa ya yang mesti saya jadikan catatan?

terima kasih

Comments

  • Halo Bu @Suci

    Ada beberapa hal yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk memilih sekolah bagi anak ATR.

    Kondisi kelas kalau memungkinkan tidak lebih dari 20 anak, komunikasi yang baik dengan pihak sekolah mengenai kebutuhan khusus si kecil.

    Tunjukan cara perawatan alat bantu dengar/processor secara sederhana, misalnya mengganti battere, bagian-bagian dari ABD/processornya.

    Semoga membantu

    salam.

  • Halo ibu @Suci,
    Perkenalkan saya Rina, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan ibu mengenai persiapan sekolah. Sebelum ibu mendaftarkan anak ibu ke sekolah yang ibu inginkan, sebaiknya ibu coba kelas (trial) dulu di sekolah tersebut agar ibu dapat melihat program/kegiatan yang dilakukan di sekolah serta bagaimana guru menangani anak di kelas. Jumlah murid untuk sebuah kelas playgroup sebaiknya tidak lebih dari 16 anak per kelas. Ibu juga harus tanyakan 1 guru pegang/urus berapa anak karena jika 1 guru memegang lebih dari 9 anak kawatir keamanan anak tidak terjaga. Lalu jika ibu sudah cocok dengan program dan sekolahnya, ibu sebaiknya berkomunikasi dengan baik dengan guru dan kepala sekolah di sana untuk menginformasikan kondisi anak ibu serta bagaimana cara merawat sederhana alat bantu dengar/ci anak misalnya bagaimana untuk mengetahui baterei habis serta cara menggantinya, alat tidak bisa terkena air mengingat kadangkala ada kegiatan yang meggunakan air di sekolah. Ibu juga bisa menginformasikan bagaimana cara berkomunikasi dengan anak ibu. Demikian sedikit masukan dari saya semoga bermanfaat.

    Salam,
    Rina

  • Halo ibu,
    Anak dengan gangguan dengar seperti anak kita idealnya bersekolah di sekolah yang bisa mendukung perkembangan bahasanya, mengingat anak2 kita masih dalam tahap belajar bicara. Jumlah murid sebaiknya jangan terlalu banyak, agar perhatian guru bisa maksimal. Kita harus pintar-pintar mencari sekolah yang mudah kita ajak kerjasama dan mendukung perkembangan anak kita. Pengalaman saya, memang butuh waktu/tenaga untuk survei sana sini mencari sekolah yang cocok untuk anak. Perhatikan lingkungan sekolah, metode/kurikulum, dan yang terpenting komitmen sekolah untuk mendidik anak kita dengan segala konsekuensinya. Untuk usia playgroup saya rasa target sekolah belum terlalu banyak ya bu, baru sebatas sosialisasi dan kemandirian. Untuk target ini harus dipilih sekolah yang paling bisa membuat anak kita nyaman, guru dan murid/teman-teman yang sayang dan perhatian sama anak kita. Bisa dicoba saran bu rina jayani di atas, untuk trial terlebih dulu untuk melihat cocok/tidak anak kita sekolah disitu.
  • wah lengkap banget!! makasih ya Bu @RinaJ dan Bu @dwii.

    Saya kemarin sempet window shopping sekolahan, sekalian trial. Beberapa sekolah menyarankan untuk sebaiknya ada guru pendampingnya sendiri.

    Untuk dari sisi alat bantu dengarnya, Alhamdulillah mereka sangat membantu.

    Gimana soal guru pendamping, kira-kira perlu ga ya Bu? saya malah khawatir anak saya jadi merasa "tergantung" sama guru pendampingnya.

  • Saya coba menjawab masalah guru pendamping (shadow teacher) ya, karena kebetulan anak saya sampai saat ini masih menggunakan guru pendamping di sekolahnya.

    Keputusan menggunakan guru pendamping atau tidak sangat tergantung pada situasi/kondisi anak dan sekolah. Anak saya pernah sekolah tanpa guru pendamping, dan sekarang menggunakan guru pendamping.

    Kapan anak bisa sekolah tanpa guru pendamping? Ketika kondisi sekolah sudah cukup ideal untuk anak kita atau ketika anak kita memang sudah cukup siap sekolah tanpa didampingi shadow teacher.

    Waktu di playgroup, saya belum menyertakan guru pendamping untuk anak saya, karena : saat itu proporsi jumlah murid dan guru sangat ideal, kelas kecil (< 10 anak), diampu 2 guru dan masih ditambah guru sentra. Selain itu, saat itu beban sekolah juga belum cukup banyak, baru sebatas sosialisasi dan belajar mandiri.

    Tetapi, ketika anak saya masuk TK, saya memutuskan menggunakan guru pendamping, dengan pertimbangan :
    1. Anak saya baru saja menggunakan ci, masih harus banyak belajar mendengar dengan alat barunya, keberadaan guru pendamping untuk mendampingi belajar mendengar.
    2. Kondisi kelas tidak ideal, jumlah murid banyak, guru lebih sedikit, jika kurang jelas guru pendamping bisa membantu mengulang pelajaran.
    3. Anak saya menghabiskan banyak waktu di sekolah karena fullday, sangat sayang jika waktunya tidak dimanfaatkan untuk belajar, dengan adanya guru pendamping, bisa memanfaatkan setiap moment kegiatan di sekolah sebagai sarana belajar, ibaratnya seperti AVT setiap saat.
    4. Guru pendamping membantu mencatat kegiatan belajar di sekolah untuk saya ulang di rumah.

    Lalu sampai kapan harus pakai guru pendamping? Ya balik lagi ke prinsip awal, sampai kondisi memungkinkan atau jika memang anak kita sudah cukup siap dilepas tanpa guru pendamping.

    Begitu pengalaman saya, mungkin bisa membantu menambah referensi bu Suci.
    Salam hangat.
  • Selamat pagi ibu..
    Salam kenal.
    Saya mama Effrata dari Mojokerto.
    Masukan dari ibu Rina dan ibu Dwi sangat lengkap dan bisa membantu ibu untuk memulai langkah pertama dalam dunia pendidikan secara formal.
    Saya ingin menambahkan dan berbagi sedikit pengalaman pada anak saya.Effrata sekarang kelas 9, di SMP umum.
    Saat di sekolah dasar dan SMP, saya selalu memulai perkenalan dengan lingkungan sekolah , guru dan teman2 Effrata. Setiap ajaran baru, saya selalu tampil didepan kelas, bercerita dengan teman2 Effrata, dan menunjukkan bagaimana kita bersikap, dan berkomunikasi dengan Effrata. Semua itu adalah untuk menunjukkan kedekatan dan kebersamaan kita dan lingkungan anak kita. Pada akhirnya , Semua mengalir dengan normal, tanpa ada perlakuan khusus dan saya juga tidak pernah menggunakan guru pendamping. Pemikiran saya saat itu, adalah saya ingin melihat sejauh mana kemampuan dan kemandiriannya saat pergaulan maupun pendidikannya. syukurlah, semua berjalan baik, dan Effrata bisa mengikuti pelajaran dan juga bersosialisasi dengan teman2 nya.
    Ini pengalaman kami Bu, dan setiap anak pasti mempunyai cara dan kondisi yg berbeda-beda. Dan kita para orang tua yg harus jeli untuk mengobservasi dan melihat sejauh mana dan apa yg menjadi kebutuhan anak kita.
    Selamat berjuang ibu, semangat terus.

    Salam super.
  • Halo bu @Suci,
    Saya coba menjawab mengenai pertanyaan ibu tentang guru pendamping. Maaf bu saya belum tahu usia anak ibu, jadi saya coba menjawab secara umum saja ya bu untuk anak usia balita dan tidak memiliki kebutuhan khusus lain selain gangguan pendengaran (maksudnya contohnya seperti hyperactive). Untuk itu saran saya adalah untuk mencoba tanpa guru pendamping dahulu.
    Biasanya kalau sekolah dari awal sudah minta anak kita didampingi guru pendamping tanpa mengobservasinya terlebih dahulu itu kemungkinan sekolahnya tidak mau repot bu. Hal ini disebabkan karena tenaga pengajar mereka belum dibekali dengan pengetahuan mengenai anak gangguan pendengaran atau karena jumlah murid yang banyak dalam satu kelas sementara tenaga pengajar sedikit/kurang sehingga mereka langsung saja meminta anak didampingi guru pendamping.
    Saran saya minta pada pihak sekolah untuk mencobanya terlebih dahulu tanpa pendamping tetapi ibu sebagai orang tua harus memberikan pengetahuan serta tips dan trik untuk menangani anak ibu kepada semua pihak yang terkait dalam pengajaran anak ibu di sekolah. Kita tidak bisa menyalahkan mereka kalau mereka memang tidak tahu penanganan anak kita di sekolah.
    Nanti setelah diobservasi oleh pihak sekolah dan juga ibu, barulah bisa diputuskan apakah memang memerlukan guru pendamping atau tidak. Kemudian jika memang akhirnya diputuskan memakai guru pendamping, ibu harus membekali guru pendamping dengan pengetahuan mengenai anak gangguan pendengaran dan juga meminta guru pendamping untuk tidak terlalu melayani anak tetapi membantu anak hanya jika dibutuhkan agar anak tetap belajar untuk mandiri dan percaya diri.
    Demikian sedikit tambahan info mengenai guru pendamping dari saya semoga bermanfaat :)

  • Wah terimakasih ibu Rina Jayani, sudah ditambahkan lengkap masukannya. Iya betul, guru pendamping harus kita bekali pengetahuan tentang anak gangguan dengar. Guru pendamping anak saya juga saya ikutkan berbagai kursus/seminar/parent sharing tentang metode belajar anak gangguan dengar. Juga selalu saya ikutkan setiap anak saya terapi AVT, jadi dia tau cara mengajari anak saya. Sekarang fungsinya lebih banyak sebagai terapis anak saya selama di sekolah. Jadi sambil menyelam minum air, sekolah sekaligus terapi.
  • Hai salam kenal ibu suci, saya mama bryan, anak saya bryan sekarang fuduk di kelas 5 SDN di bali. Saya ingin berbagi pengalaman ttg persiapan masuk sekolah. Bryan mulai sekolah di TK kecil setahun, disitulah tantangan terbesar menurut saya krn dia pertama mengenal dunia luar. Dan saat masuk SD benar2 masa penyesuaian. Sampai kelas 2 baru dia benar-benar paham maksud gurunya. Dan bryan tidak memakai guru pendamping.
    Benar kata mama2 hebat di atas bu, kita harus pintar2 mencari lingkungan sekolah yg nyaman dan kondusif untuk kemajuan pendengarannya.dan yg terpenting, dia bahagia dan menikmati dunia sekolahnya...
    Semoga bermanfaat ya bu....
  • Hello ibu suci, salam kenal ya? Saya Abi Nahdah dikabupaten Tangerang perbatasan bogor barat Alhamdulilah Nahdah sekarang sudah kelas 2 SDIT.
    Pertama kali dulu saya lakukan saya cari info sekolah yg pas buat nahdah lewat Internet Tk dan SD, saya cari sekolah care dan peduli terhadap anak berkebutuhan khusus, karena nanti anak kita akan belajar lama disekolah tsb, karena peranan sekolah,guru, teman sebaya dan kita sbg orang tua akan sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran anak kita,kalau bisa disekolah tersebut tersedia team khusus (kayak terapist,psikolog,,dll)tak apa kita bayar lebih asal benar benar bagus buat anak kita, kondisi lingkungan psikologis anak saya rasa sangat penting kita perhatikan, kemudian kita juga sangat perlu menjalin hubungan baik dg semua pihak yg ada disekolah, mulai dari kepala sekolah sampai sacurity, nahdah anakku sekarang Alhamdulilah sudah saya lepas naik jemputan, semua no telp mereka saya minta,termasuk supir antar jemput, jadi jika pas ada terjadi sesuatu cepat kita tangani. kita tak usah malu menjelaskan kondisi anak kita kepada mereka semua.khusus guru kelas sudah saya jadikan seperti keluarga,semua step step penggunakan alat dan perawatannya saya jelaskan semua.Dan buat teman teman nahdah diawal tahun baru saya minta waktu ke guru kelas mengenalkan nahdah secarah utuh, malah alatnya saya kasih pegang keteman teman sambil saya info bagaimana jika alat nahdah rusak akibat kalian kan kasihan nahdah tak bisa mendengar kalian bicara?, sekarang Alhamdulilah Semua care kenahdah malah ada 2 orang jadi best friend sekalian bodyquard nahdah, yg agak sulid adalah seminggu pertama awal sekolah kita benar benar semangat dan ikut happy setiap pagi mandi dan pakai baju bareng kasih motivasi secara terus menerus,jangan aneh jika suatu hari dia ngomong tak mau sekolah dan tak bisamengerjakan tugas adalah jadi penyebab nahdah terbesar tak mau dan jalas berangkat sekolah. disiplin,negosiasi,reward dan hukuman yg mendidik harus tetap berjalan. Alhamdulilah sekarang Nahdah sudah enjoy disekolah sampai sore nilainya pun tak ada yg remed,khusus math malah dirapornya nilai seratus, yg penting harapan kita kepada anak harus tetap tinggi dan kita sebagai orang tua jangan melupakan tujuan awal kita ya bu?semoga adek sukses menjalani hari harinya disekolah baru dan sukses ya bu? senangrasanya bisa saling berbagi info semoga bermaanfaat maaf jika saya ada salahkata. Abi Nahdah.
Sign In or Register to comment.